Pagi itu nyaris saja saya terlambat memasukkan kartu absensi ke clock-card tapi beruntung masih kurang 5 menit dan tidak ‘merah’. Meski halaman parkir sudah ada beberapa mobil dan motor tapi di lantai 17 tempat saya bekerja masih terasa sepi karena hanya ada kira-kira sepertiga dari biasanya. Nampak beberapa payung basah terbuka untuk dikeringkan.
Seperti biasa saya ke dapur untuk menyeduh segelas coffee-mix, “Pagi Gus” kataku menyapa seorang staf yang tergolong masih baru yang sudah sibuk dihadapan PC-nya
“Selamat pagi Pak, banjir ya Pak?”
“Iya, hujan deras, banjir dan macet dimana-mana, rumah kamu dekat ya ? enak ya jadi tidak terlambat karena macet dan banjir.”
”Tidak juga Pak, cukup jauh Pak, sekali naik bus dan dua kali naik angkot lebih dari satu jam perjalanan kalau cuaca normal.”
“Oh begitu ya, koq nggak terlambat masuk kantornya?”
“Iya Pak, kan udah tau kalau awal tahun seperti ini pasti hujan dan biasanya macet, saya berangkat setengah jam lebih awal Pak.”
”Ooo, saya pun manggut2 sambil mulai membuka notebook di meja saya.”
”Pagi Dave” tiba-tiba saja Jimmy menyapa dari belakang dengan baju agak basah dan sibuk melap tangannya dengan tissue, jam di dinding menunjukkan pukul 08.25
”Wah.. wah.. kacau.. kacau, hujan deras banget, banjir dimana-mana, macetnya ampunnnn… mana lainnya? Ha.. ha.. pasti banyak yang telat kan ? Kamu kena macet juga kan?” lanjut Jimmy sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang-kerjanya.
Saya tersenyum kecil mengiyakan sambil membaca e-mail yang mulai mengalir. Dalam hati saya bergumam: ”Karena hujan, ada sebagian orang yang mempersiapkan diri agar tidak terlambat masuk kantor dan sebagian lainnya meyakini jika semuanya pasti datang terlambat demikian pula dirinya.”