Articles

Membidik Segmen Premium

Posted By Administrator
Saturday, 06 October 2007

Di Indonesia, jumlah orang kaya ini hanya 120.000-an, tetapi memiliki kekuatan funding yang besar. Rata-rata simpanan mereka 50--100 kali nasabah kebanyakan. Kalau Anda memiliki uang tunai lebih dari Rp500 juta dan ingin menyimpannya  di  suatu  bank, dijamin Anda  akan  dapat  menjadi nasabah  utama  dengan pelayanan pribadi. Dengan  pelayanan  ini, Anda  tak  perlu  antre untuk menemui petugas  bank.  Pihak  bank memiliki ruang khusus untuk Anda bertransaksi.

Dalam  dua tahun terakhir bank-bank mulai sadar akan  kekuatan orang kaya ini. Citibank, dengan pelayanan Citigold, sudah merintisnya sejak lama, sehingga kini dapat menarik lebih dari  20.000 nasabah  premium.  Bank-bank lain, seperti  Bank  Mandiri  dengan pelayanan Mandiri Prioritas, BNI dengan BNI Prima, BCA dengan BCA Priority, dan Danamon dengan Primagold, mulai agresif memperebutkan  kelompok  nasabah ini. Di Indonesia, jumlah orang  kaya  ini hanya  120.000-an, tetapi memiliki kekuatan funding  yang  besar. Rata-rata simpanan mereka 50--100 kali  nasabah kebanyakan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di dunia perbankan. Industri-industri lain, seperti asuransi, penerbangan, perhotelan,  otomotif,  dan consumer goods, berlomba-lomba menangkap fenomena  ini. Krisis  ekonomi  ternyata tak menyurutkan jumlah  orang  kaya  di Indonesia.  Mereka adalah segmen yang relatif tahan krisis.  Beberapa  memang terkena, tetapi krisis juga sekaligus  menghasilkan orang-orang kaya baru.

Segmentasi Berdasarkan Income
Tingkat  pendapatan  seseorang selalu menjadi  faktor  menarik untuk dipertimbangkan oleh para praktisi pemasaran dalam strategi segmentasi,  apa  pun jenis industrinya.  Penyebabnya  ada tiga. Pertama, variabel ini mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan daya  beli  konsumen. Kedua, mudah dideskripsikan  dan  segmennya relatif mudah diakses oleh produsen. Disebut mudah dideskripsikan karena kelompok pelanggan dalam segmen tertentu, yang  dihasilkan dari  perbedaan tingkat pendapatan ini, relatif  dapat  diketahui ciri-ciri dan perilakunya. Ketiga, data mengenai tingkat pendapatan  atau  pengeluaran relatif mudah  didapat.  Dengan  demikian, seorang  eksekutif  pemasaran  sanggup  mengukur  seberapa  besar potensi pasar untuk masing-masing segmen.

Berdasarkan pendapatan, pasar dapat dibagi menjadi dua,  tiga, atau  lima segmen, tergantung tujuan dan produknya. Setelah  itu, perusahaan harus berpikir, segmen mana yang akan dituju. Ada yang menjadikan  segmen  menengah ke bawah  sebagai  target  pasarnya. Walau  daya belinya rendah, segmen ini jumlahnya  relatif  besar. Ada  juga perusahaan yang menargetkan segmen golongan atas,  atau dinamai "segmen premium".

Aqua menargetkan produknya untuk kelompok menengah,  sedangkan Equil memilih segmen premium. Kijang, Panther, atau Soluna  memilih  segmen  menengah,  sedangkan BMW  dan  Mercedes  menargetkan kelompok atas sebagai pasarnya.

Mengapa Segmen Premium?
Ada  banyak alasan mengapa perusahaan lebih senang  menjadikan segmen  premium  sebagai  target pasarnya.  Pertama,  segmen  ini relatif memberikan potensi margin yang lebih besar. Memang  benar segmen ini relatif sedikit jumlahnya. Contohnya, jumlah  keluarga di  Jakarta  yang pengeluarannya lebih dari Rp10 juta  per  bulan diperkirakan  hanya  2%. Ini berarti  hanya  30.000-an  keluarga. Walau demikian, daya beli kelompok ini cukup besar untuk beberapa produk tertentu.

Selain  itu,  kelompok  ini relatif  tidak  sensitif  terhadap harga. Survei Frontier - Marketing & Research Consultant  memperlihatkan  bahwa rata-rata mereka lebih mempertimbangkan  kualitas daripada harga. Dalam evaluasi membeli atau memilih merek,  rata-rata faktor harga hanya berpengaruh 20%--30%, sedangkan  kualitas 70%--80%. Jadi, perusahaan yang mempunyai kualitas 10% lebih dari pesaingnya  sanggup  menaikkan produknya hingga 50%  lebih  mahal dari pesaingnya.

Rendahnya  sensitivitas harga kelompok ini juga didukung  oleh besarnya faktor "emosional" dalam proses pembelian. Mereka  lebih mencari gengsi atau self-esteem dalam menentukan merek yang ingin dibeli.  Justru  karena banyak orang yang tidak  sanggup  membeli merek tertentu, konsumen ini bangga sebagai kelompok yang memakai merek tersebut. Tak jarang timbul price-quality relationship yang kuat  dalam benak mereka. Makin tinggi harga, makin  tinggi  pula kualitas merek tersebut.

Alasan  kedua berhubungan dengan efektivitas pemasaran.  Biaya promosi  dari perusahaan yang menargetkan segmen premium  relatif dapat dikelola secara lebih efektif. Kelompok ini dapat dijangkau dengan direct promotion sehingga komunikasi lebih efektif. Kadang biaya untuk menjangkau setiap pelanggan cukup besar, tetapi masih dapat  ditekan. Kelompok ini dapat dijangkau melalui  keanggotaan pada  klub-klub tertentu, atau kepemilikan kartu kredit. Tak jarang  perusahaan sudah mampu membuat database  pelanggannya  sehingga  makin  mudah lagi dalam melakukan proses  komunikasi  dan distribusi produk atau jasa.

Alasan  ketiga, terbangunnya image produk yang baik. Ini  akan membantu penetrasi pasar produk tersebut, baik untuk produk  yang sedang ditawarkan maupun produk baru yang menggunakan merek  sama di  masa mendatang. Jaguar, contohnya. Citra produk  ini  sebagai mobil  premium demikian kuat. Setelah terjadi pembenahan  distribusi dan diluncurkan model dengan harga yang terjangkau,  tingkat penjualan produk ini tidak mengecewakan.

Segmen Anak Muda
Kalau Warta Ekonomi memfokuskan perhatian pada segmen  premium anak muda, saya yakin ini juga merupakan fenomena menarik. Mereka adalah orang-orang kaya berumur kurang dari 35 tahun dan  pemilik suatu usaha. Memang, dibandingkan dengan yang berumur di atas  35 tahun,  segmen  premium anak muda ini  berjumlah  lebih  sedikit. Namun, gaya hidup mereka lebih kaya variasi. Mereka adalah potret konsumen  yang lebih hedonis, kombinasi pasar hari ini  dan  masa depan. Pasar masa depan, karena membuat perusahaan berpikir untuk menjadikannya sebagai pelanggan 20--30 tahun ke depan.

Memang,  untuk  industri perbankan dan  asuransi,  segmen  ini kalah menarik dibandingkan premium tua. Namun, untuk produk  yang menyangkut  gaya hidup, seperti restoran, otomotif, dan  leisure, ini adalah segmen primadona.

Berdasarkan  survei  Frontier, segmen premium  anak  muda  ini terdiri dari tiga subsegmen. Pertama, conservative segment,  yang besarnya 24%. Walau kaya, mereka cenderung low profile,  memiliki prinsip  yang kuat dan tak menyukai popularitas.  Sebagian  besar kekayaan  dari  warisan orang tua. Mereka big spender  dalam  hal pendidikan dan rekreasi, serta setiap pengeluarannya lebih  untuk investasi.

Kedua,  prestigious oriented (45%). Mereka ini  rata-rata  kekayaannya lebih kecil, tetapi pengeluarannya lebih besar.  Mereka pembeli  pertama untuk produk baru, sangat concern pada apa  yang dipikirkan  lingkungan  sosial terhadap dirinya.  Mereka  membeli produk  yang  tak  bisa dibeli oleh  kebanyakan  orang.  Kelompok wanita relatif banyak masuk dalam segmen ini. 

Segmen  ketiga  adalah status oriented,  yang  berjumlah  31%. Mereka  sangat ambisius, high achiever, dan  berjiwa  kompetitif. Sebagian  besar di sini adalah kaum pria. Tingkat  pengeluarannya lebih  kecil  dari segmen kedua, tetapi lebih besar  dari  segmen pertama. Dibandingkan kedua segmen sebelumnya, persentase  terbesar dari segmen ini kaya dari hasil jerih payahnya.

Tentu  saja  ketiga  segmen ini  memiliki  beberapa  kesamaan. Mereka mementingkan kualitas, ingin pelayanan yang prima,  mengutamakan kenyamanan dan hal-hal yang bersifat pribadi.

Tantangan  terbesar  perusahaan yang membidik  segmen  premium anak  muda ini adalah loyalitas. Mereka memiliki  loyalitas  yang rendah.  Wajar,  dengan  banyaknya pilihan  dan  keinginan  untuk menjadi trendsetter, membuat mereka selalu mempertimbangkan untuk membeli yang lebih baru dan lebih baik. Oleh karena itu, strategi akuisisi  untuk pelanggan ini haruslah diimbangi dengan  strategi retention yang cermat supaya tidak menjadi pelanggan sesaat.

Handi  Irawan D., MBA, MCom adalah chairman Frontier Marketing  & Research Consultant.

This entry was posted on Saturday, 06 October 2007 and is filed under categories | Manajemen
You can leave a comment or Trackback from your own site


Comments Area (0 Comments)


Leave a Reply

Subject
Name
Email
Website
Comment

Download

Rich & Poor Country , 06 Oct 2007

Who Moved My Cheese , 06 Oct 2007