Articles

Menginjak Dua Kapal

Posted By Administrator
Saturday, 06 October 2007

Sebut saja koh Aseng seorang pengusaha sukses di bidang bahan bangunan di Yogyakarta yang tak pernah membiarkan ke-lima orang putra-putrinya menikmati bangku universitas, maka ketika salah satu putrinya nekad meraih gelar Insinyur Teknik Sipil malah dimusuhi.  Apa yang terjadi dengan putra-putrinya yang rata-rata hanya lulusan SMU ? Bagi mereka telah tersedia sebuah toko bahan bangunan lengkap dengan isi dan modalnya. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, wong bapakmu ini SD saja nggak lulus tapi bisa kaya” katanya berkobar-kobar seolah nggak mau kalah dengan isi artikel “Kalau ingin kaya, ngapain sekolah !?” tulisan Purdi E. Chandra.

coba periksa, berapa banyak orang tua yang mau berisiko seperti koh Aseng, berapa banyak yang suka anaknya hanya lulus SMP dan berapa banyak yang rela anaknya drop-out ?  Mungkin saja masih ada satu diantara ribuan dan coba periksa apakah para pakar motivator yang sukses yang tak lulus SD atau drop out itu anaknya juga tak lulus SD atau ikut-ikutan drop-out supaya sukses seperti orang-tua-nya?  Nyaris tidak bakal menemukan orang tua yang tak ingin anaknya sekolah setinggi mungkin, kecuali karena alasan tak cukup biaya.

Seorang kawan yang bergelar doktor dan menjadi dosen di sebuah universitas terang-terangan mengatakan bahwa perguruan tinggi tak ubahnya sebuah industri yang mencetak sarjana dalam waktu empat tahunan dan ketika lulus dan masuk ke dunia kerja kalau dihitung-hitung secara cermat, ternyata ilmu yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang misal akuntansi hanya butuh sekolah selama setahun bahkan kursus 3 bulan saja sudah bisa kerja sebagai staf akuntansi.  Tapi pada kenyataannya masyarakat lebih memilih bersekolah 4 tahun plus 2 tahun dari pada setahun yang hanya mengantungi gelar D1 atau D3.

Awal November 2004 Robert T. Kiyosaki berkunjung ke Indonesia dan tidak sedikit mereka yang membaca buku-bukunya mendadak memiliki nyali untuk pindah kuadran dari employee menjadi entrepreneur, tanpa peduli kemudian sukses atau gagal yang penting jadi entrepreneur.  Ada sementara orang yg melihat euphoria ini bertindak bagaikan dukun togel yang memotivasi setiap orang untuk terjun ke kuadran entrepreneur yang terlanjur dianggap lebih bergengsi ini.  Cukup beralasan menceburkan orang yang baru ‘ingin’ berenang terjun ke sungai tanpa peduli bisa atau tidak bisa berenang dan lebih banyak publikasi bagi mereka yang sukses ketimbang yang malu dipublikasikan karena tenggelam alias gagal, alhasil yang nampak hanyalah mereka yang sukses saja.

Ketika makan siang di sebuah restoran empek-empek di bilangan Jakarta Utara terlontar pertanyaan ke pemilik restoran yang ternyata baru buka satu minggu tinggal di Jakarta hasil bedol desa sekeluarga dari Palembang.  Usut punya usut, ternyata tempat usahanya yang berupa rumah tinggal harus dibayar senilai 120 juta untuk jangka waktu kontrak empat tahun.  Luar biasanya mereka juga tidak paham dengan kota Jakarta, dan ketika saya tanyakan hal kenekatan mereka “Ini masih lebih bagus daripada saya berjudi, kalau kalah bisa amblas tak bersisa, kalau saya usaha seperti ini seandainya kalah pun masih ada sisa” jawabnya enteng.

Didalam buku-bukunya hingga permainan Cash Flow Games 101 sebenarnya Kiyosaki mengajarkan kita untuk mengambil risiko yang terukur.  Seseorang yang ingin pindah kuadran perlu merencanakan dan menjalani proses transformasi dari employee ke entrepreneur secara bertahap.  Paycheck adalah istilah gajian yang perlu ditabung dan mulai diaktifkan secara cerdik dan strategis.  Pergerakan menggeser kursi dari lingkungan employee ke lingkungan entrepreneur sudah harus dimulai dan memanfaatkan waktu diluar jam kerja employee untuk berinteraksi dengan para entrepreneur membantu merangsang aktifnya otak kanan.  Membaca buku dan majalah yang berhubungan dengan dunia usaha sangat positif untuk menambah wawasan.  Tak jarang internet bisa mempertemukan kita dengan peluang bisnis diluar jangkauan fisik bahkan benar-benar jauh diluar perkiraan kita.  Berorganisasi atau berkomunitas membawa kita ke dunia yang berwarna-warni serta mengubah penampilan menjadi semakin bermakna.  Mengenal orang-orang sukses, berinteraksi dan belajar kepada mereka sangat membantu kita merangkak keluar dari tempurung kelapa yang kita diami selama ini.  Memiliki tujuan dan impian bidang bisnis yang ingin kita raih adalah keharusan untuk mengaktifkan pikiran bawah sadar kita  semakin fokus diikuti pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan.  Beberapa transaksi dengan teman, kolega hingga orang yang tak dikenal sangat berguna untuk mengasah naluri bisnis menjelang memasuki dunia bisnis yang sesungguhnya.

Ketika keputusan berinvestasi telah diambil bukan berarti kita harus pamit kepada bos kita saat itu juga, ada ribuan orang yang serempak bilang “mana mungkin ?”  “You are what you think”, ketika kita berpikir “tidak mungkin”, demikianlah yang terjadi, sebaliknya ketika dengan tegar kita mampu menghapus kata-kata “tidak mungkin” dalam kamus kehidupan kita, niscaya tiada yang mustahil.  Menginjakkan kaki kanan di employee dan kaki kiri di entrepreneur terkesan konservatif dan kurang totalitas, tetapi bisa menjadi alternatif pilihan yang bijaksana diantara ekstrim kanan yang mungkin hanya menjadi kolektor buku-buku Kiyosaki di zona kenyamanan atau ekstrim kiri yang langsung meninggalkan bos tanpa pijakan yang mantap.  “No Risk No Gain”, makin besar risiko yang diambil makin besar untung atau rugi, hidup selalu demikian dan kita punya hak untuk secara bijak mengambil risiko yang terukur.  Menginjakkan kaki di dua kapal boleh menjadi alternatif pilihan bijaksana sebelum kita menjadi entrepreneur yang sesungguhnya.

Entrepreneur Indonesia, Edisi November 2004

This entry was posted on Saturday, 06 October 2007 and is filed under categories | Motivasi
You can leave a comment or Trackback from your own site


Comments Area (0 Comments)


Leave a Reply

Subject
Name
Email
Website
Comment

Download

Rich & Poor Country , 06 Oct 2007

Who Moved My Cheese , 06 Oct 2007