Articles

Sudhamek AWS : Jangan Sebut Kami Jago Kandang

Posted By Administrator
Saturday, 06 October 2007

Tahun 1979, penduduk di berbagai daerah di Indonesia sudah sangat dekat dengan makanan tradisional kacang garing, yang saat itu sama sekali tidak diberi merek, tetapi hanya dibungkus kemasan sederhana tanpa diberi nama. Salah satu produk kacang garing tanpa merek itu adalah kacang yang dikembangkan oleh PT Tudung Putra Jaya (TPJ), yang didirikan tahun 1958 di Pati oleh mendiang Darmo Putro, ayahanda Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto.

KETIKA Sudhamek memimpin PT TPJ secara penuh pada tahun 1994, kacang garing yang kemudian diberi nama Kacang Garuda itu sudah mulai diekspor ke Hongkong, tetapi secara tidak langsung. Untuk bisa melakukan ekspor langsung, lelaki kelahiran Rembang, 20 Maret 1956 ini langsung memutuskan untuk membenahi basis distribusi perusahaan tersebut dengan mendirikan PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS).

Sentuhan tangan Sudhamek begitu dingin. Hasilnya sungguh luar biasa, produk kacangnya berhasil merambah pasar di 22 negara di dunia. Negara-negara yang menjadi sasaran ekspor itu antara lain Amerika Serikat, hampir seluruh negara di kawasan Amerika Latin, China, Vietnam, Australia, Eropa, kawasan Timur Tengah, hingga Afrika Selatan.

"Saya sudah merancang investasi langsung tahap awal ke Vietnam, China, dan Afrika Selatan pada tahun 2005. Dengan membuat pabrik di sana, maka kami akan lebih dekat dengan konsumen. Jadi kami tidak bisa lagi disebut sebagai jago kandang," kata suami Lanny Rosiana ini.

Sudhamek mengakui, dirinya bangga menjadi masyarakat Indonesia yang ampu membawa produk tradisional berupa penganan dari kacang ke pasar internasional. Salah satu hal yang membanggakannya adalah setiap bungkus kacang garing yang dipasarkan selalu membawa nama Indonesia.

"Kami terus berbisnis dengan tetap mengedepankan nasionalisme. Jadi, kalau kami membangun pabrik di luar negeri, jangan diartikan sebagai capital flight. Kami tetap membawa nama Indonesia di setiap bungkusnya," kata CEO Idaman Para Profesional Perusahaan Besar versi Warta Ekonomi 2004 itu.

PT TPJ kini boleh dikatakan sebagai salah satu perusahaan terkemuka di sektor industri makanan ringaolahan berkembang menjadi sebuah perusahaan yang memimpin industri makanan ringan di Indonesia. Setelah membangun divisi distribusi, Sudhamek mulai melakukan diversifikasi produk sejak tahun 1995.

Produk-produk tambahan tersebut adalah kacang salut (coated peanut) yang diperkenalkan seiring dengan berdirinya PT Garuda Putra Putri Jaya. Kemudian produk biskuit melalui divisi barunya PT Garudafood Jaya.

Produk jelly mulai diproduksi pada tahun 1998 ketika Sudhamek mengakuisisi PT Triteguh Manunggal Sejati (TMS). Pada tahun yang sama, produk Kacang Garuda dinyatakan sebagai pemimpin 65 persen pangsa pasar kacang bermerek di Indonesia berdasarkan survei Corinthian Inforpharma Corpora (CIC).

Kemudian tahun 2001, seluruh divisi yang ada, baik PT TPJ, PT Garuda Putra Putri Jaya, maupun PT Garudafood Jaya menggabungkan diri (merger) menjadi satu nama, yakni PT Garudafood Putra Putri Jaya atau PT GPPJ. Mulai April 1999, mereka dikenal sebagai Garuda Food.

Setelah merambah pasar makanan ringan selama 21 tahun, produk yang dikembangkan Sudhamek mulai menjadi perhatian berbagai lembaga konsumen internasional. Tahun 2000, Kacang Garuda mendapatkan penghargaan dari Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA) dalam kategori kacang bermerek. Penghargaan ini terus berulang hingga lima kali hingga tahun 2004.

Di bawah kepemimpinan Sudhamek sebagai Chief executive Officer (CEO) Garuda Food Group, produk-produk makanan Indonesia terus dihargai oleh dunia internasional. Setelah penghargaan ICSA, Kacang Garuda mendapatkan sertifikat Superbrands, kemudian bersama merek OKKY Jelly meraih Top Brand for Kids.

Setelah dirintis sejak 1979, kini Sudhamek menjadi penanggung jawab atas kehidupan 13.000 tenaga kerja Garuda Food Group. Pada saat yang sama, dia juga memegang tapuk pimpinan atas aset penjualan perusahaan yang bernilai Rp 800 miliar.

Untuk membangun bisnis yang begitu besar, Sudhamek telah mengembangkan sebuah sistem nilai yang dikembangkan secara ketat di dalam perusahaannya. Sistem nilai yang menjadi sumber acuan kemanjuan industri makanan ringan Garuda Food Group itu adalah dinamisasi dan ketenangan.

"Dengan sistem nilai dinamis ini, maka Garuda Food akan terus inovatif dan terus berubah dalam mengikuti persaingan di dalam industri makanan ringan yang sangat ketat dan cepat ini," kata Man of the Year tahun 2002 pilihan forum Wartawan Jawa Tengah ini.

Sementara melalui ketenangan, maka Garuda Food Group menekankan kepada pencerahan para karyawannya pada saat memacu prestasi selama bekerja di lingkungan perusahaan. Dengan sistem nilai ini, maka kesejahteraan pegawai tidak hanya cukup dengan menutupi kebutuhan karyawannya saja, namun harus mensejahterakan keluarganya juga.

"Dengan kesejahteraan yang menyeluruh itu, maka kami berharap akan muncul para pekerja yang berpengetahuan, sehingga akan menciptakan pekerja yang puas dengan kualitas kehidupan keluarga mereka dan kualitas pekerjaannya," kata anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Bussiness Advisory Council-ABAC pada tahun 2002 ini.

Sebagai seorang wiraswatawan (entrepreneur) ulung, kehidupan pribadi Sudhamek merupakan kehidupan yang seimbang. Meskipun disibukkan dengan sejumlah agenda penting di Garuda Food Group, Sudhamek masih menyibukkan diri pada perhimpunan penganut agama Budha di Indonesia.

Peraih perhargaan Entrepreneur Agribusiness of the Year tahun 2003 dari menteri pertanian RI ini telah dinobatkan sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Masyarakat Budha Indonesia (MBI) di tahun yang sama. Ini telah membuat Sudhamek menjadi orang yang dihormati oleh tiga aliran agama Budha yang ada, baik Mahayana, Hinayana, maupun Tantrayana.

Selain itu, dalam bidang pendidikan, Sudhamek juga membangun dua buah sekolah, yakni Sevilla National Plus School dan Central National Plus School di Jakarta. Kedua sekolah dibangun sebagai bagian dari minat dan obsesi Sudhamek untuk membangun sarana pendidikan yang berbasis pada pembentukan karakter.

Kelengkapannya sebagai seorang wiraswasta telah menarik Ernst & Young untuk menganugerahkan penghargaan Indonesia Entrepreneur of the Year 2004 kepada Sudhamek pada 6 Oktober 2004 lalu. Dalam kompetisi ini, Sudhamek menyisihkan 14 finalis lainnya, yang rata-rata merupakan wiraswastawan ulung Indonesia, seperti Mochtar Riyadi (Lippo Group), Setyono Djuandi Darmono (PT Jababeka Tbk), Rudi Wanandi (PT Asuransi Wahana Tata), Saripin Taidy (PT Probesco Disatama), dan Moetaryanto (Grup Petrolog).

Dengan penghargaan utama tersebut, maka Sudhamek berhak mewakili Indonesia di ajang The World Entrepreneur of the Year Award 2004 di Monte Carlo, Mei 2005. Ini merupakan peluang bagi Sudhamek untuk setara dengan pendahulunya,yakni Dahlan Iskan, BRA Mooryati Soedibyo, dan Djoenaedi Joesoef yang telah memegang gelar The World Entrepreneur of the Year Award.

Noke Kiroyan, ketua dewan juri Indonesia Entrepreneur of the Year 2004 memuji prestasi Sudhamek. Dewan juri yang terdiri atas lima orang pengamat ekonomi dan praktisi usaha di Indonesia sangat kagum atas semangat, visi dan komitmen yang diberikan Sudhamek dalam membangun bisnisnya.

"Sudhamek merupakan contoh seorang entrepreneur yang jeli, dan mampu mengambil resiko dari suatu bisnis secara bijak dan berjangka panjang," kata Noke. (Orin Basuki), Kompas, Jumat, 8 Oktober 2004, halaman 15.

This entry was posted on Saturday, 06 October 2007 and is filed under categories | Kepemimpinan
You can leave a comment or Trackback from your own site


Comments Area (0 Comments)


Leave a Reply

Subject
Name
Email
Website
Comment

Download

Rich & Poor Country , 06 Oct 2007

Who Moved My Cheese , 06 Oct 2007